Senin, 21 Mei 2012

INTEGRITAS TIMOTIUS





INTEGRITAS ITU PENTING





         Paulus adalah seorang yang sangat menghargai integritas pribadi dan nama baik. Ketika menasehati Timotius, Paulus mengatakan dalam 1 Timotius 3:7 bahwa “Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.” Hocking memberikan komentar tentang ayat ini, “para pemimpin Rohani harus memiliki suatu kesaksian dan gaya hidup yang konsisten diantara orang-orang yang tidak percaya maupun mereka yang percaya.”[1]
         Pernyataan Paulus dan tanggapan Hocking di atas menunjukan penting sekali integritas bagi hamba Tuhan. Billi Graham seorang penginjil terkenal mengatakan: “Integritas adalah perekat yang menyatukan cara hidup.”[2] Selanjutnya Sig Siglar juga mengatakan tentang pentingnya integritas bahwa memimpin dengan integritas harus menjadi bagian yang permanen dalam hidup.[3]  Berkenaan dengan pentingnya integritas, Susanto menyatakan bahwa pemimpin harus memiliki integritas, karena itu akan membawa orang ke arah yang benar, yang lebih merupakan tujuan bersama daripada tujuan pribadi sang pemimpin.[4]
         Integritas memiliki pengaruh yang besar dalam pelayanan, sebab seorang yang memiliki integritas pasti mementingkan kepentingan orang lain. Gambaran mengenai integritas dan akibatnya sangat jelas dipaparkan Tong, bahwa:
Motivasi yang benar memberi kekuatan yang besar pada saat yang paling melelahkan, dan memberi keteguhan pada waktu penganiayaan menimpa, memberi sukacita pada waktu sengsara menekan; pada saat lingkungan menunjukkan kegelapan yang paling dahsyat, cahaya di dalam hati kita makin menjadi terang. Maka motivasi yang murni dan hati nurani yang suci adalah salah satu penyebab paling penting bagi suksesnya pelayanan kita.[5]

         Dalam kelas mata kuliah “Misi Abad 2011” dengan topik “Bait Suci” bersama Pdt. James Takaliuang, M.Th menampilkan statistik berkenaan dengan pengeluaran gereja. Dengan rincian sebagai berikut: 1)Proyek domestic 95 %, 2) Misi biasa 4,5 %, 3)Misi garis depan 0,5 %. Statistik ini menunjukan bahwa prosentase pengeluaran gereja lebih besar untuk proyek domestik dibanding pelayanan misi. Statistik ini merupakan indikator  yang menunjukan bahwa pelayan dalam gereja tersebut tidak memiliki integritas, karena orientasi lebih besar untuk proyek domestik. Berkenaan dengan itu Salomon Yo mengemukan bahwa:
Demikian juga kita menyaksikan adanya hamba Tuhan yang tidak melayani dengan tulus, lebih memperhatikan keuntungan pribadi, apakah materi, nama dan kedudukan, daripada memperhatikan jemaat Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Kita sangat membutuhkan pemimpin bangsa yang mengasihi rakyat dan betul-betul berjuang bagi kesejahteraan seluruh rakyat. Kita membutuhkan rohaniawan-rohaniawan yaitu hamba-hamba Tuhan yang betul-betul melayani kita. Seorang hamba Tuhan yang baik, ketika umat/rakyatnya dalam kesulitan, tersesat, dia akan berusaha sekuat tenaga menolong mereka, membantu mereka mencari jalan keluar dari kesulitan mereka. Hamba Tuhan seperti ini sangat langkah.[6]


          Dr. Larry Keefauver dalam bukunya menjelaskan realitas tentang seorang hamba Tuhan yang orientasi pelayanannya kepada dirinya sendiri. Penjelasan itu sebagai berikut:
“Program apa yang mendatangkan hasil bagi Anda di gereja yang Anda gembalakan?”, rekan sepelayanan saya bertanya. Kadang-kadang kita belanja program seperti pelanggan di jalur lintasan mobil yang membaca menu makan cepat saji. Kita berusaha memuaskan nafsu makan domba-domba yang lapar tanpa memperdulikan kesehatan gizi mereka. Bukannya menyediakan makanan yang sedikit lemaknya, seimbang berupa firman Allah, penyembahan, pelayanan dan persekutuan, kita menyediakan makanan cepat saji terbaru yang untuk sementara mengenyangkan perut namun gagal untuk memberikan kesehatan dan kebugaran yang berjangka panjang.[7] 
      

         George Bloomer mengemukan:
Banyak orang tidak menyadari betapa menyakitkan dan besarnya dampak kerusakan yang diakibatkan oleh penyalagunaan otoritas. Hal ini sulit diperbincangkan  dan kadang-kadang menjadi isu yang kompleks. Seperti berbagai macam penyalagunaan yang lainnya, kita harus menyadari adanya masalah sebelum kita melakukan perubahan menuju kebaikan.[8]

         John C. Maxwell mengemukakan:
Integritas adalah komoditi yang mulai menghilang saat ini. Standar-standar pribadi ambruk di dunia yang mengutamakan kesenangan pribadi serta jalan pintas menuju sukses. Gedung Putih, Pentagon, Capitol Hill, Gereja, Arena Sport, Akademi bahkan pusat penitipan anakpun pernah diterjang skandal.[9]

         Lebih lanjut George Bloomer memberikan info yang faktual berkenaan penyalagunaan otoritas atau degradasi integritas yang terjadi beberapa tahun yang lalu di Angkatan Laut Amerika. Ada skandal serius didalam kepemimpinan Angkatan Laut Amerika. Beberapa perwira menghianati kepercayaan yang diberikan kepada mereka, dalam hal penggunaan sumber daya dan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinan mereka. Sehingga tidak dapat dipungkiri, orang-orang mulai mengasosiasikan Angkatan Laut Amerika dengan korupsi.[10]
         Dalam bukunya, Wesley Brill memberi komentar:      
Dewasa ini tidak banyak orang Kristen yang mau menyerahkan diri seluruhnya kepada Kristus dan mengikuti Dia, sehingga melupakan diri sendiri dan melepaskan segala keinginan diri sendiri, lalu mengambil tugas Kristus. Ya, sedikit saja yang berbuat demikian. Dewasa ini di manakah semangat yang dahulu ada pada Hendry Martin? Pada waktu ia meninggalkan tanah airnya dan kaum keluarganya untuk mengambil pekerjaan Tuhan di negeri yang jauh, ia berkata: “aku pergi bernyala-nyala, sampai habis karena Allah.” Semangat seperti ini terdapat dalam diri Timotius.[11]

         Paulus Wibowo dalam journal kepemimpinan mengatakan:
Tidak sedikit para pemimpin jemaat gagal dalam pelayanan oleh karena tidak memiliki integritas sebagai pemimpin. Kejatuhan seorang pemimpin bukan merupakan sesuatu yang baru, semua karena masalah integritas. Jika kita memiliki integritas maka, kita tidak akan menyembunyikan kegagalan kita, kita tidak akan bertindak seolah-olah kita tidak mengalami kegagalan.[12]

         Salah satu kasus persoalan hamba Tuhan yang masih hangat sampai saat ini adalah isteri Pastor Benny Hin, Zuzanne Hin menuntut perceraian. Pendeta yang disebut-sebut sebagai nabi ini telah memberkati banyak orang dengan firman Tuhan melalui sejumlah stasiun televisi internasional seperti Trinity Broadcast Network, CNN, dan jaringan lainnya. Bahkan dalam program The Miracle Crusades, Pastor Benny Hin menyatakan bahwa banyak perbuatan ajaib terutama melalui kesembuhan ilahi yang dipastikan sembuh menurut pembuktian tim medisnya. Kini nama tenar Pastor Benny Hin telah tercoreng gara-gara masalah perceraian yang menimpa kehidupan rumah tangganya. Yang menjadi indikator bahwa hal itu benar adalah, pertama, banyak komentar-komentar yang mengaku kecewa atas peristiwa ini dan kedua, KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) yang diselenggarakan 18-20 Juni 2010 di Gelora Bung Karno-Senayan, Jakarta. Dikabarkan oleh situs “sinodegbi.org” bahwa masalah perceraian tidak terlalu mempengaruhi orang-orang yang hadir namun banyak kursi yang kosong.[13]              
                  
        

INTEGRITAS TIMOTIUS


         Pada bagian ini, penulis akan membahas, pengertian dan karakteristik integritas secara umum, yakni Kredibilitas dan Loyalitas serta profil dan integritas Timotius.

Pengertian Integritas
         Secara etimologi integritas berasal dari bahasa latin, yakni dari kata “integer” yang berarti “tidak tersentuh, utuh, seluruh.”[1] Sedangkan Webster memberikan pengertian integrity, yaitu: 1. Soundness, 2. The state of being whole, entire, in undiminished, 3. A sound, unimpaired or perfect condition.[2] Selaras dengan itu Virginia S. Thatcher mengemukakan bahwa integritas adalah behavior in accordance with a strict code of values, moral, artistic, honesty; entirety, the quality of wholeness, something without mark or stain; soundness.[3] Ten Engstrom menyederhanakan pengertian integritas yakni: “melakukan apa yang anda katakan secara konsisten.”[4] Pandangan yang sama dikemukakan oleh James Dobson, “integritas berarti menepati janji, melakukan apa yang telah dijanjikan, memilih untuk bertanggung jawab dan menjadikan moto untuk berjanji selalu setia.”[5]
         Secara definisi kata integritas berasal dari bahasa Inggris yakni integrity, yang berasal dari akar kata integer yang mana artinya menyeluruh, lengkap atau segalanya. Ini adalah bentuk ketaatan secara keagamaan terhadap kode moral, nilai dan kelakuan. Kalau kita peragakan , maka integritas ini melebihi karakter seseorang, aksi yang dapat dipercaya (trustworthy action) dan komitmen yang bertanggung jawab (responsible commitment).[6]
         Dalam kamus kompetensi integritas adalah bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kebijakan organisasi serta kode etik profesi, walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukannya. Dengan kata lain, “satunya kata dengan perbuatan.” Mengkomunikasikan maksud, ide dan perasaan secara terbuka, jujur dan langsung sekalipun dalam negosiasi yang sulit dengan pihak lain.[7]
         John C. Maxwell memberikan gambaran pengertian integritas:
Seorang yang tidak membagi loyalitas (itu sikap mendua) ataupun dia hanya pura-pura (itu munafik). Orang yang memiliki integritas adalah orang yang “utuh”, mereka bisa diidentifikasi dengan kesatuan pikirannya. Orang yang memiliki integritas tidak punya apapun untuk disembunyikan dan tidak punya apapun untuk ditakuti. Kehidupan mereka seperti buku yang terbuka. V. Gilbert Beers mengatakan sistem, “seseorang yang punya integritas adalah orang menetapkan sistem norma untuk menilai semua kehidupan.”[8]

         Mary Hartanti juga memberi gambaran pengertian integritas dengan buah pikirannya dalam Mitra Indonesia Edisi 26 Tahun V 2010, berikut pernyataannya:
Integritas adalah kekuatan karakter seseorang yang bermuatan nilai-nilai luhur. Orang yang berintegritas satu dan perbuatan; orang yang berintegritas satu pengajaran satu kehidupan; Orang yang berintegritas menepati janji; Orang yang berintegritas transparan, apa adanya, mengakui kesalahan dan mau dikoreksi.[9]

        Senada dengan dengan pendapat di atas Ricard Clinton mengemukakan bahwa:
Integritas adalah “kualitas atau keadaan utuh atau tidak terbagi” yang menuntut konsistensi antara apa yang kita klaim kita percayai dengan siapa kita dan apa yang kita lakukan. Integritas amat mirip dengan konsep Perjanjian Baru tentang kemurnian. Kemurnian berarti bebas dari cela, menjadi tanpa cacat, atau menjadi tak ternoda. Pada dasarnya, integritas berarti “apa yang terlihat adalah apa yang sebenarnya.”[10]

         Lebih lanjut, john Maxwell mengemukan mengenai inti dari integritas bahwa:
Integritas artinya melakukan dan mengucapkan hal yang benar, siapapun yang sedang memperhatikan bahkan seandainyapun tak ada yang memperhatikan. Integritas artinya mempraktekkan apa yang kamu khotbahkan. Integritas artinya jujur dengan diri sendiri dan sesamamu tentang siapa kamu. Kalau kamu mempunyai integritas, kamu akan “utuh, tidak rusak”, sebab apa yang kamu ucapkan dengan yang kamu lakukan cocok.[11]

         Jadi, integritas adalah suatu sikap yang mendisiplinkan diri untuk melakukan apa yang dijanjikan dengan konsisten. Jika dikenakan kepada individu tertentu maka integritas menunjukan kepada sikap seorang yang memiliki kualitas yang memenuhi syarat untuk diberi predikat pribadi berintegritas.

Karakteristik Integritas
        Karakteristik berarti berkenaan dengan ciri atau sifat khusus. Dalam hal ini ada beberapa sifat atau karakteristik integritas dan penjelasannya secara umum, antara lain sebagai berikut:
1.      Kredibilitas
        Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kredibilitas berarti prihal dapat dipercaya. Seorang yang dapat dipercaya adalah seorang yang jujur, John C. Maxwell mengemukakan bahwa “integritas bukanlah faktor yang sudah pasti dalam kehidupan semua orang. Integritas adalah hasil dari disiplin diri, kepercayaan batin, dan keputusan untuk jujur dalam segala situasi.” Fred Smith pernah menjelaskan perbedaan antara pandai dan dapat dipercaya: katanya, pemimpin yang pandai itu tidak pernah bertahan lama. Integritas membantu seorang dapat dipercaya, bukan sekedar pandai. Peter Drucker juga mengemukakan hal yang serupa bahwa “syarat terakhir dari kepemimpinan yang efektif adalah meraih kepercayaan. Kalau tidak, tidak akan ada pengikut.” Lebih lanjut Ann Landers mengatakan, “orang berintegritas itu berekspektasi untuk dipercaya. Mereka juga tahu bahwa waktu akan menunjukan bahwa mereka benar dan bersedia menunggu.”[12]
         Sejalan dengan itu Dwight Eisen Hower berkata:
Supaya bisa menjadi pemimpin seseorang harus punya pengikut. Dan untuk mempunyai pengikut, seseorang harus mempunyai keyakinan diri. Maka, kualitas utama bagi seorang pemimpin adalah integritas yang tidak dapat dipertanyakan.[13]

         Pandangan yang sama disampaikan oleh John C Maxwell dengan mengemukakan bahwa:
Semakin bisa dipercaya diri Anda semakin besar pula kepercayaan orang lain yang ditempatkan pada diri Anda, dengan demikian memungkin diri Anda memiliki hak istimewa mempengaruhi kehidupan mereka. Semakin kurang dipercaya diri Anda, semakin kurang pula kepercayaan yang ditempatkan kepada diri Anda dan makin cepat Anda kehilangan kedudukan untuk mempengaruhi.[14]

         Seorang yang memiliki kredibilitas adalah seorang yang telah teruji konsistensinya dalam segala hal. Dalam kamus elektronik IndoDic E-dictionary mengartikan konsistensi sebagai suatu keadaan yang tidak berubah atau tetap.[15] Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia konstan atau tetap dan stabil.[16] Sejalan dengan ini, berikut John C. Maxwell memberikan gambaran:
Bedasarkan Webster, integritas adalah “keadaan utuh bersatu.” Saat saya memiliki integritas, kata-kata dan tindakan saya sesuai. Saya ada saya tidak peduli di mana saya atau saya bersama siapa. Integritas bukanlah apa yang kita lakukan sebagai siapa kita, sebaliknya menentukan apa yang kita lakukan. Sistem nilai yang tidak bisa dipisahkan dari diri kita.[17]

         Fred Smith mengemukakan, “dasar integritas adalah karakter.” Karakter lebih penting dari pada intelegensi di dalam kepemimpinan. Saya telah keliru menempatkan intelegensi diatas karakter lanjutnya.[18] Hal yang sama dikemukakan Denis bahwa karakter adalah memilih untuk melakukan yang benar dalam situasi apapun, tidak peduli apakah orang lain melihatnya atau tidak.[19]
         Jadi, kredibilitas adalah tindakan yang sadar secara realistis sehingga mengindikasikan kepribadian yang layak dipercaya dan diteladani. Jika dikenakan kepada individu tertentu, maka menunjukan kepada sikap yang tidak terpisahkan dengan sistem norma yang berlaku.
2.      Loyalitas

         Loyalitas dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah  kepatuhan, kesetiaan, ketaatan, komitmen, pengorbanan.[20] Secara definisi loyalitas dari bahasa inggris yaitu loyality yang artinya kesetiaan kepada; sumpah setia kepada.[21] Seorang yang memiliki loyalitas lazim disebut loyalis, loyalis sendiri memiliki pengertian yang menunjukan kepada seorang yang loyalis atau pengikut dan pendukung yang setia kepada satu tokoh.[22]
         Ujian terhadap integritas mencakup loyalitas dan loyalitas merupakan kunci utama integritas.[23] Sam Doherty mengemukakan bahwa Loyalitas sangat penting dalam satu misi atau organisasi jika organisasi tersebut mau bertahan dan menjadi kuat. Pengikut yang setia melihat pemimpinnya lebih penting dari orang lain; dan dia akan tinggal dengan pemimpinnya saat buruk ataupun baik.[24] Seorang dikatakan istimewa karena memiliki kesetiaan yang teruji.[25] Joyce Meyer mengemukakan bahwa mengidentifikasi seorang yang memiliki kesetiaan yang teruji oleh waktu.[26]
         Penjelasan mengenai Loyalitas di atas menunjukan bahwa loyalitas sangatlah di butuhkan, karena berbicara prihal kesetiaan dan ketaatan atau kepatuhan kepada pemimpin. Sehubungan dengan integritas, maka seorang yang memiliki loyalitas dapat diakui integritasnya, sebab adanya konsistensi antara perkataan dan perbuatan.         
         Jadi, dari beberapa pemahaman yang telah dipaparkan di atas mengenai karakteristik integritas yaitu kredibilitas dan loyalitas, maka hal ini menunjukan relasi yang integral antara kredibilitas dan loyalitas. Artinya, untuk mengindentifikasi seorang yang berintegritas maka kredibilitas dan loyalitas sebagai acuannya.
Profil Timotius
         Timotius dalam bahasa Yunani adalah Timoteos, yang artinya honouring God (menghormati Allah).[27] Anak yang lahir dari perkawinan campuran: ibunya Eunike wanita Yahudi, jelas mengajar dia mengenai Kitab Suci dan adat istiadat Yahudi[28] neneknya Lois adalah seorang Yahudi yang saleh,  bapaknya seorang Yunani (Kis 16:1; 2Tim 1:5). Kampung halamannya Listra (Kis 16:1) dan dia sangat dihormati oleh saudara-saudaranya orang Kristen baik di sana maupun di Ikonium (Kis 16:2).[29] Paulus menjadikannya sebagai muridnya dalam perjalanan yang kedua (Kis 16:1-3), dan sejak itu Timotius selalu menyertai ke mana pun ia pergi.[30] Timotius adalah seorang percaya yang mengalami perkembangan rohani dengan cepat sejak pertobatannya dan ia mendapatkan pujian tidak hanya dari kotanya sendiri melainkan jemaat di Ikonium memberikan pujian baginya.[31]
         Perjumpaan pertama kali antara Timotius dan Rasul Paulus adalah pada saat perjalanan pertama ketika Rasul Paulus berada di Kota Listra (Kis 14:6).[32] Menurut para teolog, Timotius berumur 15 tahun pada waktu ia bertobat dan kemungkinan ia diutus sebagai gembala oleh rasul Paulus pada usia sebelum mencapai 35 tahun.[33] Paulus mengikut sertakan Timotius dalam pelayanan dan Paulus menyuruh untuk menyunat Timotius karena orang-orang Yahudi di daerah itu dan oleh karena bapanya seorang Yunani. Mengenai hal ini William Barclay menanggapi:
Penyunatan ini dilakukan bukan karena Paulus budak adat atau memandang penyunatan adalah kebajikan istimewa. Namun karena ia mengetahui bahwa jika Timotius bekerja di tengah-tengah orang Yahudi akan syak wasangka untuk melawannya jika ia tidak disunat. Karena itu Paulus menempuh langkah ini dengan pertimbangan praktis agar Timotius lebih berdaya guna sebagai pekabar Injil.[34]

         Untuk mengetahui lebih jauh mengetahui profil Timotius maka penulis akan memaparkan dan menjelaskan  hubungan Timotius dengan Paulus. Spesifikasinya sebagai berikut:
1.      Anak/Murid
         Timotius adalah anakku yang sah di dalam iman (1 Tim 1:2). Sapaan pembukaan surat yang diungkapkan oleh rasul Paulus kepada Timotius dalam kedua suratnya yaitu 1 dan 2 Timotius.  Kata anakku dalam bahasa Yunani teknon| dengan kasus noun dative neuter singular yang berasal dari kata teknon (1 Tim 1:2), pada ayat ini kata ini diartikan sebagai sejati. Kata teknon dalam penggunaannya merupakan sifat yang ditunjukan kepada kata benda yaitu Timotius sebagai yang sejati. King James Version menterjemahkan my own son[35] sedangkan NASB menterjemahkan my true child.[36] Kata teknon memiliki dua pengertian, pertama secara harafiah artinya adalah dari anak-anak sah, sah menurut hukum, anak yang sah; secara kiasan; dari hubungan rohani yang benar, sejati. Kedua sebagai suatu kualitas yang keaslian sebenarnya, ketulusan.[37] Maka, ungkapan teknon dalam 1 Timotius 1:2 menunjukan kiasan yaitu menyatakan sebuah rohani yang benar, karena mengingat bahwa Timotius memiliki orangtua dengan identitas yang jelas (2 Tim 1:5; Kis 16:1-3).
         Lebih lanjut frasa “Timotius adalah anakku yang sah dalam iman” menunjukan kepercayaan Rasul Paulus kepada Kristus bahwa Timotius adalah anak rohaninya yang sah. Kata iman yang gunakan Paulus, dalam bahasa yunani adalah pistis dengan kasus memiliki kasus noun feminim singular dative [38] yang artinya kepercayaan, iman, agama, janji dan bukti.[39] Pistis berasal dari kata peitho yang merupakan kata kerja, dengan arti “menaruh kepercayaan.”[40] Setelah melihat arti kata teknon dan pistis dan kedua kata ini bila kaitkan dengan konteks, maka memberi pengertian bahwa Timotius adalah seorang yang diberikan kepercayaan. Berkenaan dengan frasa ini, Donald Guthrie memberi komentar yang sama bahwa:
Surat ini dituliskan kepada Timotius sebagai orang Kristen generasi kedua yang sejati, anak-anak sejati dalam kepercayaan kepada Kristus, orang yang dapat Paulus harapkan untuk melanjutkan pekerjaan dan kesaksian Injil.[41]

         Sejalan dengan itu Matthew Henry mengemukakan bahwa:
If Timothy needed the increase and continuance of it, how much more do we ministers.” He calls Timothy his own son, because he had been an instrument of his conversion, ... Timothy had not been wanting in the duty of a son to Paul, and Paul was not wanting in the care and tenderness of a father to him”[42]

         Timotius dilambangkan sebagai anak yang bukanlah anak secara biologis melainkan keturunan secara rohani, sejauh hubungan rohani yang benar dalam Kristus. Alasan didasarkan pada perjumpaan pertama Timotius dengan rasul Paulus di Listra pada perjalanan misinya, saat itu Timotius mengalami pertobatan. Mengenai kata “anakku”, Jhon R. W Stott mengemukakan bahwa ini merupakan salam yang lazimnya dikatakan oleh Rasul Paulus.[43] Lebih lanjut lagi Stott mengemukakan bahwa:
Paulus menyebut anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan, bukan saja karena kasihnya yang besar kepada Timotius sebagai teman yang berhasil dibimbingnya menjadi pengikut Kristus, tapi juga karena kepercayaannya kepada Timotius sebagai rekan sekerja (Rom 16:21) dan saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus (1 Tes 3:2).[44]

         Hubungan sebagai seorang bapa dan anak ini menunjukan kepada kesetiaan Timotius kepada Paulus, sehingga hal ini yang membedakan Timotius dari orang lain. Ia setia dan kesetiaannya itu terbukti. Pekerjaannya selalu dikerjakan dengan tulus iklas dan penyerahan diri seluruhnya kepada Tuhan. Pekerjaan yang baik ini menunjukan kepada kesetiaan yang teruji.[45] 
         Jadi, Timotius mendapat predikat anak atau murid adalah karena memenuhi ketentuan yaitu kepercayaan dan kesetiaannya kepada Rasul Paulus. Timotius memiliki pikiran yang sama dengan Rasul Paulus yaitu hanya tidak berorientasi kepada diri, melainkan Kristus.
2.      Rekan sekerja Paulus
         Dalam Roma 16:21 Rasul memberi salam dan mencatumkan nama Timotius sebagai rekan sekerjanya. “…temanku sekerja…” dalam Roma 16:21 adalah  sunergos dengan kasus adjective normal nominative masculine singular.[46] Sunergos memiliki pengertian helper, fellowhelper, fellowworkers,  workfellow, labourer together with, companion in labour.[47] King James Version menerjemahkan rekan sekerja dengan  my workfellow (teman sepersekutuan) sedangkan Contemporary English Version works rekan sekerja dengan with me (mengikutku). Maka ungkapan Paulus “temanku sekerja” memberikan dua pengertian: pertama, Timotius yang adalah rekan sekerja dan pembantu telah melakukan tugas yang diembankan Rasul Paulus kepadanya. Kedua, hanya Timotius selalu bersama Paulus kemanapun dia pergi, hal ini juga merupakan indikasi sunergos dengan kasus singular yang artinya tunggal; hanya dia satu-satunya teman sekerja Paulus yang setia. Selaras dengan ini Yoppi menerjemahkan kata ini dengan “bekerja bersama dan teman sekerja.” Dengan pengertian ini menunjukan bahwa Timotius tidak saja menjadi rekan tetapi sekaligus sahabat yang senantiasa berkerja waktu bersama dan tidak bersama dengan Rasul Paulus dalam mengerjakan proyek. Berkenaan dengan kasus adjective pada kata sunergos, maka ini menunjukan juga kepada sifat Timotius yang adalah rekan sekerja yang selalu membantu.
         Rasul Paulus adalah seorang “pemain tim.” Ia jarang sekali melayani sendirian dan bukanlah seorang yang tidak bisa memberikan kepercayaan pada orang-orang yang lebih muda dari dirinya,[48] maka Paulus memilih Timotius (Kis 16:1-3) sebagai teman kerja yang tepat. Timotius juga dijadikan salah satu delegasi dan pembantu yang tidak hanya menemani Paulus dalam perjalanan dan karyanya, tetapi diberi tugas khusus ke Tesalonika, Korintus dan Makedonia (Kis 19:22).[49]
         Jadi, rekan sekerja yang maksud adalah bahwa Timotius senantiasa memberitakan injil waktu bersama dan tidak bersama Paulus. Guthrie memberikan komentar bahwa, Timotius terkenal sebagai teman dekat dan temanku sekerja dalam pemberitaan.[50]
3.      Hamba Kristus
         Filipi 1:1 hamba Kristus dalam bahasa Yunani ialah douloi Cristou  dengan kasus noun nominative masculine plural.[51] Douloi Cristou Paulus menggunakan noun yaitu kata benda yang menunjukan kepada Paulus dan Timotius sebagai alat yang digunakan Kristus. Dalam penyelidikan frasa ini,  penulis menitik beratkan penyelidikan pada kata douloi. Douloi sendiri berasal dari kata  doulos yang artinya adalah “is the usual word for slave, one who is permanently in servitude, in subjection to a master.”[52] Kata douloi  bila didefinisikan a slave, bondman, man of servile condition.[53] Definisi ini menjelaskan tentang seorang yang sedang memperbudak atau mendedikasikan dirinya kepada tuannya secara tetap dan tidak berubah oleh kondisi.
         Timotius memiliki sifat suka memperhatikan orang-orang dan memikirkan kebutuhan mereka. Ia sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan tidak hanya rohani tetapi jasmani. Paulus memperhatikan gereja di Filipi dan ingin mengutus seorang untuk menyatakan perhatian itu serta mendapatkan keterangan tentangnya. Tentu saja ada ratusan orang Roma (Paulus menyebut 26 nama dalam salamnya di Roma 16); namun tak seorang pun dari mereka yang sedia untuk diutus. “sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Yesus Kristus” (Fil 2:21).[54] Indikasi “…kepentingan sendiri…” dalam Filipi 2:21 yakni Paulus memikirkan orang-orang di Roma pada waktu itu dan tidak ada orang selain Timotius yang bersedia untuk menerima tugas yang akan di serahkan Paulus kepadanya.[55]
         Jika dikatakan seorang hamba Kristus maka dengan otomatis mengerjakan pekerjaan Kristus dan memiliki pikiran Kristus, sehingga dalam hal ini Paulus memandang Timotius sebagai sahabat dan gembala sidang yang baik. Jarang sekali ditemukan orang yang serupa dengan Timotius yang tidak memperdulikan dirinya sendiri melainkan selalu mencari kepentingan dan faedah orang lain.[56]

Integritas Timotius

1.      Kredibilitas       
         Dalam perjalanan misi Rasul Paulus, ia menemukan beberapa orang muda yang berpotensi dan memuridkan mereka untuk disiapkan menjadi pelayanan. Lukas memberi daftar orang-orang terhidap ke dalam rombongan Paulus: Sopater dari Berea, Aristarkhus dan Sekundus dari Tesalonika, Gayus dari Derbe, Timotius dari Listra dan Tikhikus serta Trofimus dari Asia Kecil (Kis 20:4-5). Kemudia hari Rasul Paulus menuliskan kepada salah satu orang yang terhisap kedalam ke dalam rombongannya yaitu Timotius.[57] Dari sekian banyak rekan sekerja Rasul Paulus, Timotius adalah salah satunya dan merupakan pribadi yang paling menonjol disinggung dalam surat-suratnya dari semua rekan sekerjanya. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai kredibilitas Timotius, maka Filipi 2:19,23 penulis jadikan sebagai acuan yang tepat untuk mengidentifikasinya.
         Ada dua kata yang serupa dalam dua ayat ini ialah “kuharapkan.” Dalam King James Version diterjemah dengan i trust sedangkan  NIV menterjemahkan i hope[58]. I hope atau kuharapkan dalam bahasa Yunani ialah elpizo dengan kasus verb indicative present active 1st person singular; [59] berasal dari kata elpis.[60] Paulus menegasan verb indicative 1st person singular pada kata elpizo, ini berarti Paulus sendiri yang menunjuk Timotius sebagai seorang yang menggantikan dia; sedangkan modus present active ini menunjukan kepada suatu kegiatan yang sedang dilakukan dengan giat.  Kata elpis sendiri memiliki arti faith atau iman dalam terjemahan Indonesia. Jadi, kata  elpizo memiliki dua pengertian: pertama, menaruh harapan atau kepercayaan kepada satu individu secara vertikal.[61] Kedua, menaruh harapan atau kepercayaan kepada satu pribadi secara horizontal.[62] Maka, kata  elpizo menunjukan kepada Paulus dalam memilih, menetapkan dan mengharapkan atau menaruh kepercayaan seorang yang tepat untuk ditugaskan, supaya  melanjutkan proyeknya adalah melalui proses pergumulan dengan cara komunikasi vertikal kepada Allah.
         Jadi, proses pemilihan dan penetapan Timotius sebagai seorang yang diharapkan, dilakukan secara terus menerus secara vertikal dan horizontal. Hal ini menjelaskan bahwa Rasul Paulus sebelum memberikan kepercayaan kepada Timotius tidak mengambil keputusan sendiri. Ada beberapa faktor[63] yang dapat mendorong Rasul Paulus untuk memilih Timotius tanpa bertanya kepada Allah, tetapi cara yang ditempuhnya adalah bertanya kepada Tuhan terlebih dahulu.
        Matthew Henry juga memberikan komentar bahwa:
None comparable to Timothy, a man of an excellent spirit and tender heart. Who will naturally, that is, sincerely, and not in pretence only. It is the duty of ministers to care for state of their people and be concerned for their welfare.[64]

        Wycliffe memberikan komentar bahwa:
Sebagaimana Musa menugaskan Yosua dan Tuhan Yesus menugaskan para rasul-Nya, demikianlah Paulus menugaskan Timotius. Demikian pula, sebagaimana Musa mengakhiri penugasannya dengan memberikan nasihat bagi seluruh Israel, dan Kristus bagi seluruh Gereja, Paulus mengakhiri penugasannya dengan sebuah berkat "Kasih karunia beserta kamu."[65]  

          Sejalan dengan Wycliffe, Erick Sudharma mengemukakan bahwa:

Hidup sang rasul sebentar lagi berakhir, tetapi itu bukan berarti berakhirnya kehadiran “terang dunia.” Masih ada Timotius, murid Kristus hasil gemblengan sang rasul. Di dalam dirinya, Rasul Paulus telah menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan hidupnya. … Melalui tulisan ini saya berbicara kepada saudara, murid Kristus yang, sama seperti Timotius, dipanggil untuk menjadi “terang dunia.”[66]   

         Timotius sangat terlibat dalam dalam misi ke Tesalonika untuk menguatkan jemaat yang sedang dalam penganiayaan (1 Tes 3:1-5).[67] Paulus menyuruh Timotius kembali ke Tesalonika, untuk melihat bagaimana keadaan orang Kristen di situ. Tatkala Timotius kembali kepada Paulus di Korintus, dia membawa berita baik tentang keteguhan hati orang-orang Tesalonika dan kegiatan mereka dalam penyebaran Injil. Tapi dia laporkan juga adanya beberapa masalah. Masalah-masalah itu mengenai hidup kesusilaan (khususnya tentang hubungan seksual) dan akhir zaman (khususnya mereka yang prihatin, kalau-kalau pada hari kedatangan Tuhan yang kedua kalinya mereka yg sudah mati akan kurang beruntung dibandingkan mereka yg masih hidup). [68] Dalam pelayanannya Timotius memberikan informasi yang faktual kepada Rasul Paulus mengenai keadaan jemaat di Tesalonika.
        Paulus menjalani persahabatan yang tulus dengan teman-teman sekerjanya. Hal itu didasarkan pada kepercayaan dan integritas pribadi. Paulus cukup beruntung karena mempunyai banyak teman di sekelilingnya, namun pada umumnya orang hanya mempunyai beberapa sahabat karib. [69] Sahabat karib yang dimaksudkan adalah teman sekerja Paulus dan salah satu diantaranya Timotius. Dalam buku “Rahasia Keberhasilan Seorang Pemimpin”, David Hocking mengatakan:

Kebanyakan orang tidak akan memiliki banyak sahabat karib. Mungkin mereka memiliki banyak kenalan atau hubungan sosial, namun lingkaran keintiman atau para sahabat karib biasanya sangat kecil. Jenis persahabatan seperti itu dikembangkan selama suatu periode waktu yang panjang dan diuji dalam berbagai situasi yang berbeda. Adalah berbahaya untuk berbagi rasa terlalu banyak hal pribadi dengan orang yang bukan sahabat karib. Diperlukan waktu untuk membangun persahabatan seperti itu dan untuk saling memiliki kasih dan kepercayaan yang melindungi dan membela.[70]
 
         R Budiman memberi tanggapan ungkapan Paulus kepada Timotius “anakku”:

Ini tidak hanya melukiskan hubungan akrab antara Timotius dengan Paulus sebagai hubungan dengan seorang bapak rohani, melainkan juga adanya sikap percaya antara kedua orang itu. Tidak ada orang yang begitu mendapatkan kepercayaan Paulus seperti Timotius (Fil 2:20-22)[71]

         William Barclay juga mengemukakan mengenai kredibilitas Timotius bahwa:
Timotius adalah orang yang dapat dipercaya dan dapat diutus kemanapun oleh Paulus sebab ia pasti akan pergi. Tentu menyenangkan jika seorang pemimpin mempunyai bawahan seperti dia. Timotius adalah teladan bagi kita bagaimana melayani dalam iman. Kristus dan jemaat-Nya membutuhkan pelayan-pelayan seperti itu.[72]

         Sebagai orang yang dipercaya Rasul Paulus memberikan nasihat kepada Timotius agar memelihara Injil (2 Tim 1:14). Memelihara Injil dalam bahasa Yunani menggunakan kata phulasso dengan kasus kata Verb2 aorits active imperative[73] yang artinya jagalah, melakukan penjagaan, menjaga, mematuhi, berjaga.[74] Verb2 menunjukan kata kerja orang kedua, aorist menunjukan kepada pekerjaan pada masa lampau yang terus dikerjakan sampai masa kini, active menunjukan kepada subjek yang sedang melakukan kegiatan dengan giat atau tidak pasif, sedangkan imperative menunjukan kepada sesuatu yang harus dilakukan atau tidak boleh tidak. Konteks ayat ini Rasul Paulus memberikan tugas untuk memelihara “harta yang indah.” Frasa ini menunjukan kepada injil, artinya yang dipelihara adalah Injil. Maka kata phulasso memiliki pengertian suatu perintah yang harus dikerjakan yaitu pemeliharaan terhadap “harta yang indah” (injil) secara terus-menerus (continue) sampai selamanya. Berkenaan dengan frasa ini Kelly memberi tanggapan bahwa:
It is precisely this teaching of Paul which is now identified as the splendid trust which has been committed to Timoty, and which he is exhorted to keep safe, preserve from distortion and corruption at the hands of the sectaries. The clear implication is that the Apostle regards him as his successor and legatee.[75]

         Sejalan dengan Kelly, Thomas D. Lea mengemukaan mengenai frasa ini bahwa:

Paul had entrusted Timoty with the sound teaching of the gospel. He could not let heresy erode it. The deposit Paul had left with Timoty is a reference to the truth of the gospel Timoty had received. Paul words to Timoty suggest that the apostle was designating Timoty to carry on Paul work. The task of preserving the truth of the gospel is so demanding and difficult that human strength alone cannot assure it. Maintaining the purity of the gospel demands the might and wisdom of the holy spirit. The Holy spirit dwells within all believers and provides strength for them. Paul focused on that special enabling which the spirit makes available for use in ministry.[76]


         Sehubungan dengan komentar di atas Donald Guthrie juga mengemukan bahwa Paulus dengan sungguh-sungguh telah mempercayakan Injil (harta yang indah) kepada Timotius. Dalam hal ini Timotius memenuhi syarat untuk menjalankan tugas memelihara Injil sebab dia dapat “dipercaya” dan kecakapan mengajar.[77]
          Selanjutnya Rasul Paulus memberikan tugas supaya menderita demi Injil (2 Tim 2:3). Frasa “menderita demi injil” dalam bahasa Yunani sungkakopatheo dan memiliki kasus yang sama dengan kata phulasso yaitu Verb2 aorits active imperative. Kata sungkakopatheo memiliki arti menderita bersama-sama. Penekanan Verb2 active menjelaskan bahwa Timotius harus mengerjakan “menderita demi Injil” dengan giat; aorist menjelas pekerjaan masa lampau yang dikerjakan juga pada masa kini; sedangkan modus imperative dalam kata ini merupakan suatu perintah yang menjelaskan sebuah keharusan. Jadi, dalam frasa ini Paulus ingin menegaskan kepada Timotius bahwa “menderita demi Injil” bukan pilihan tetapi merupakan kewajiban.
         Lebih lanjut Guthrie mengemukakan juga mengomentari frasa “menderita demi Injil” bahwa:
Pelaksanaan tugas ini menuntut ketaatan, kepatuhan dan kerajinan seperti yang dapat dilihat pada perajurit, olaragawan, dan seorang petani. Tugas-tugas ini mungkin sekali juga menimbulkan penderitaan, sebagai dapat disaksikan dalam pengalaman Kristen yang nyata dari Paulus. Dalam menghadapi kemungkinan mati martir, yang mungkin dialami oleh Paulus dan Timotius.[78]

         Jadi, kredibilitas Timotius tidak hanya mendapat konfirmasi dari apa kata orang, pelayanannya dan Rasul Paulus, melainkan mendapatkan konfirmasi dari Allah. Timotius memiliki kredibilitas yang otentik yaitu telah terbukti dalam pelayanannya; sehingga Rasul Paulus menaruh harapan dengan memberikan kepercayaan untuk mengemban tugas untuk memberitakan Injil.
2.      Loyalitas       
         Selama Rasul Paulus berada di dalam penjara Roma pada masa tahanan yang pertama, ia didampingi oleh beberapa pembantu, terutama oleh muridnya yang setia, Timotius (Fil 1:1; Kol 1:1; Flm 1:1). Kesetiaan Timotius mendorong Rasul Paulus menyiapkannya untuk mengambil alih tugas dari padanya sebagai generasi penerus tradisi dan kekayaan gereja.[79] Untuk lebih jauh mengidentifikasi kesetiaan Timotius, maka 1 Korintus 4:17 menjadi acuan yang tepat.
         Sebelum menjelaskan lebih  mengenai loyalitas Timotius maka penulis merasa perlu untuk menyatakan dua hal yakni: pertama, loyalitas secara tertulis tidak terdapat dalam ayat yang digunakan sebagai acuan tetapi tersirat. Kedua, loyalitas telah dibahas di atas yang menunjukan kepada orang yang setia dan taat kepada pemimpinnya. Jadi loyalitas memiliki pengertian yang sama dengan kata setia.
         Dalam 1 Korintus 4:17 terdapat kata “yang setia”, dalam King James Version diterjemahkan dengan faithful sedangakan dalam NIV faithful. Kata ini berasal bahasa Yunani yaitu piston dengan kasus adjective normal nominative neuter singular dan berasal dari kata piston.[80] Paulus menegaskan dengan adjective normal singular, ini menjelaskan bahwa kesetiaan merupakan sifat Timotius.  Barcay memberi arti kepada kata piston  ialah mempercayai secara teguh, sedangkan Yoppi  orang percaya.[81] Ada dua Pengertian kata “yang setia” yang telah Paulus gunakan untuk memberi predikat kepada Timotius. Pertama, menunjukan kepada sifat Timotius yang setia kepada Tuhan. Kedua, menunjukan kepada Paulus melihat kesetiaan Timotius dengan standar Allah; maka kalimat selanjutnya “faithful in the Lord…” F. F. Bruce mengemukakan, “Timoty was one of Paul’s converts on his  one first missionary visit to South Galatia and thenceforth one of his closest associates; for Paul’s appreciation of his character and service (Phil 2:20-22)[82].” Lebih lanjut Billy Kristanto mengemukakan
Dalam ayat 17, Timotius dideskripsikan oleh Paulus sebagai anak yang kekasih dan setia dalam Tuhan. Ketika Paulus menyatakan Timotius sebagai anaknya yang kekasih, ia tidak memanjakan Timotius, tetapi Timotius harus belajar mengikuti jejak penderitaan Paulus. Timotius tidak mendapatkan fasilitas-fasilitas khusus. Terlebih lagi, Timotius bukan saja setia kepada Paulus, tetapi juga terutama setia dalam Tuhan.[83]


         Senada dengan Billy Kristanto yang mengemukakan mengenai kata faitful, Everett juga mengemukan bahwa:
Kata faitful merupakan istilah yang dikenakan kepada Allah dan manusia. Saat dikenakan pada Allah istilah tersebut dapat dipahami dalam dua pengertian, yang pertama menunjukan pada sifat Allah yang mutlak dapat dipercaya, mantap dalam keteguhanNya, dan bebas kesewenangan-wenangan serta tidak berubah; dan yang kedua menunjukan kesetiaan Allah pada umat dan janji-janjiNya. Saat dikenakan pada manusia istilah ini menunjukan kasih setia kepada sesama dan juga kepada Tuhan.[84]

         Word analysis strong nomor 4103 menjelaskan arti Setia (faithful):

Trusty, faithful: 1a) of persons who show themselves faithful in the transaction of business, the execution of commands, or the discharge of official duties 1b) one who kept his plighted faith, worthy of trust 1c) that can be relied on; 2) easily persuaded 2a) believing, confiding, trusting 2b) in the one who trusts in God's promises 2b1) one who is convinced that Jesus has been raised from the dead 2b2) one who has become convinced that Jesus is the Messiah and author of salvation”[85]

         W. G. H Simon juga mengemukan, bahwa:

The purpose of sending him was that his loyality and humility should bring back to the memory of the Corinthians the life, example and teaching of the one who had brought them the gospel, and was therefore their true “father in God”, but whom some of them seemed now to have forgotten.[86]        
        
         Penjelasan di atas menunjukan Timotius adalah pribadi yang sungguh teruji integritasnya dalam hal loyalitas. Denis Green menafsirkan 1 Korintus 4:17 bahwa Timotius adalah buah pelayanan Paulus di Listra (Kis. 14:16; 16:1), oleh sebab itu secara rohani ia disebut anakku yang kekasih dan sebagai orang yang telah terbukti setia dalam Tuhan.[87] V. C. Pfitzner mengemukan tentang alasan Paulus mengutus Timotius ke Korintus bahwa ia adalah seorang yang telah terbukti sebagai seorang rekan kerja yang setia (1 Kor 4:2).[88]  Berkenaan dengan komentar sebelumnya mengenai kesetiaan Timotius, Abineno mengidentifikasi Filipi 2:22 dan mengemukakan bahwa, kesetiaan Timotius nyata juga dari caranya ia melayani; sama seperti seorang anak melayani (untuk) bapanya. Artinya: dengan kasih, dengan ketaatan, tanpa syarat.[89]      
         William Macdonald dalam bukunya yang berjudul “Murid Sejati” mengutip peryataan Hudson Taylor, berikut pernyataannya:
Tidak bisa ada murid yang sejati tanpa iman yang mendalam dan yang ragu-ragu kepada Allah yang hidup. Orang yang mau melakukan perkara-perkara besar bagi Allah harus terlebih dahulu percaya kepadaNya dengan sepenuhnya. “Semua raksasa Allah adalah orang-orang lemah yang melakukan perkara-perkara besar bagi Allah.” Oleh sebab itu mereka percaya bahwa Allah sungguh beserta mereka.[90]
        
         Sejalan dengan penjelasan di atas, G Sudarmanto mengemukakan tentang pelayanan Kristus yang baik adalah:
Pelayanan Kristus yang baik adalah pelayanan yang setia dan patuh. Nilai terbaik yang mesti ditunjukan seorang hamba Tuhan (servant) adalah “kepatuhan dan kesetiaannya” kepada tuannya. Patuh berarti tunduk kepada tuannya. Setia berarti sedia mengerjakan perintah itu dengan sikap hati yang benar dan kualitas terbaik sampai akhir.[91]
        
         Dalam Filipi 2:21 frasa “kepentingan Kristus” Wesley Brill mengidentifikasi sebagai “pikiran Kristus”, ia berpendapat bahwa Timotius mempunyai “pikiran Kristus.”[92] Hal ini menjelaskan bahwa seorang yang setia adalah seorang yang taat kepada tuan. Kesetiaannya diwujudkan dengan melakukan apa yang dikehendaki tuannya, yaitu mengikuti pikiran tuannya. Dalam ayat ini dan ayat sebelum dan sesudahnya Paulus menyebut perkara tentang Timotius yang menyatakan bagaimana pikiran Kristus telah memerintah kehidupan Timotius. Pikiran itu bahkan digenapkan didalam diri Timotius. [93]
         Perkara tersebut ialah bahwa, Timotius adalah orang yang penuh dengan belas kasihan dan simpati. Ia sungguhsungguh memperhatikan kepentingan orang-orang Kristen di Filipi. Ia sehati sepikir dengan Rasul Paulus dan ia juga dapat memikirkan perkara-perkara orang lain. Ia mengerti hal ihwal orang-orang Filipi dan oleh sebab kasihnya ia suka menolong mereka. Timotius sendiri dikenal baik oleh orang-orang di Filipi dan mereka menaruh kepercayaan kepadanya. Timotius adalah orang yang melupakan dan tidak memperdulikan diri sendiri. Kata Paulus, tidak ada orang seperti Timotius yang sehati sepikir dengan Paulus. Kata Paulus semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus.[94]
         Frasa “sehati dan sepikir” menunjukan kualitas Paulus yang sama dengan Timotius, sebab pelayanan Timotius sebenarnya bukanlah pelayanan kepada diri Paulus tetapi kepada Tuhan.[95] Timotius adalah orang yang hebat karena mempunyai hati dan pikiran yang sama seperti Paulus.[96] Kata Yunani yang diterjemahkan 'sehati dan sepikir' adalah  isopsukhon, yang secara hurufiah berarti of equal soul (dari jiwa yang sama). Kata ini memiliki dua pengertian, pertama: kata ini digunakan untuk membandingkan Timotius dengan Paulus sendiri. Kalau ini benar, maka artinya adalah: tidak ada orang yang begitu sejiwa dengan Paulus seperti Timotius. Kedua: Kata ini digunakan untuk membandingkan Timotius dengan orang- orang lain di sekitar Paulus. Kalau ini yang benar, maka artinya adalah: di sekitar Paulus tidak ada orang yang bisa menyamai Timotius.[97]
         Wujud kesetiaan Timotius dapat dilihat dari perubahan pada waktu bersama dengan Paulus. Dalam kebersamaannya dengan Paulus, menyebabkan Timotius berhubungan dengan macam orang, yaitu orang-orang yang kepribadian dan prestasinya dapat membangkitkan ambisi yang bermanfaat. Dari gurunya ia belajar bagaimana menghadapi krisis dan menang, yang bagi kehidupan dan pelayanan Paulus merupakan hal yang rutin. Ia diberikan hak istimewa untuk membagi firman Tuhan dan berkhotbah. Ia dipercaya dengan tanggung jawab untuk mendirikan kelompok orang-orang Kristen di Tesalonika, dan menguatkan iman mereka di dalam iman. Kepercayaan yang diberikan Paulus kepada Timotius memang tidak sia-sia. Standar yang ketat, harapan yang tinggi dan tuntutan Paulus yang berat, terbukti membangkitkan yang terbaik dari Timotius, sehingga ia menjadi pemimpin yang cukup besar.[98]
        Kesetiaan Timotius mempunyai dampak yang luar biasa sehingga ia menjadi seorang yang sangat diharapkan untuk diberikan kepercayaan oleh Paulus. Kesetiaan mempunyai kekuatan yang besar dalam pekerjaan, Hariono Soemarsono mengemukakan bahwa kesetiaan anggota adalah kekuatan. Berikut pendapatnya:
Kalau setiap anggota tim mempunyai sifat “setia sampai mati”, artinya setia dan mau berkorban bagi timnya, maka kekuatan apapun yang mengganggu tim tidak bisa menggoyahkan tim. Apalagi kalau tim itu anggotanya setia satu sama lain dan ditambahi dengan kesetiaannya kepada Tuhan, maka pasti Tuhan yang mahasetia akan mendampingi tim dengan segala kuasaNya. Anggota yang tidak setia kepada tim lainnya dan juga kepada timnya, adalah bagaikan suatu virus yang bisa menggerogoti tim.[99]

         Jadi, dari semua komentar yang telah penulis paparkan, kesetiaan yang dimiliki oleh Timotius sangatlah berfaedah bagi cita-cita Paulus untuk memajukan Injil. Timotius menjadi rekan sekerja yang memiliki kredibilitas dan loyalitas yang terbukti dalam pelayanan bersama Paulus dan pelayanannya sendiri.

Rumusan Teologis
         Integritas Timotius diindentifikasi melalui dua karakteristik yang merupakan bagian yang integral dalam diri Timotius. selanjutnya, kedua karakteristik tersebut diindentifikasikan dengan dua perikop yakni: Filipi 2:19-22 dan 1 Korintus 4:17 dan kedua perikop tersebut mengindentifikasikan integritas Timotius yakni: kredibilitas dan loyalitas.

         Berdasarkan analisa kedua karakteristik integritas yakni: kredibilitas (Fil. 2:19-22) dan loyalitas (1 Kor 14:7) di atas, maka rumusan teologisnya adalah sebagai berikut:
1.      Integritas yang dimiliki oleh Timotius merupakan alasan Paulus mengharapkannya untuk melanjutkan pekerjaan pemberitaan Injil kepada Timotius. Integritas Timotius tidak hanya mendapatkan konfirmasi dari manusia (Paulus, saudaranya dan jemaat) tetapi dari Allah.
2.      Integritas Timotius memiliki wujud yang otentik dalam pelayanannya. Wujud otentik tersebut terlihat dari kepercayaan yang diberikan Rasul Paulus kepadanya untuk memelihara dan menderita demi Injil.
3.      Kesetiaan Timotius kepada Rasul Paulus bukanlah sesuatu yang berlebihan, tetapi itu merupakan wujud kesetiaannya kepada Tuhan Yesus.

Rangkuman
         Integritas merupakan sesuatu hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh semua orang, terkhusus seorang yang telah dipanggil untuk menjadi seorang hamba Kristus. Kunci kemajuan suatu proyek (pemberitaan Injil)  sangatlah dipengaruhi oleh pemimpin dan bawahan (hamba Tuhan) yang memiliki integritas. Integritas memiliki dua karakteristik yaitu kredibilitas dan loyalitas. Kedua sifat ini harus dimiliki oleh pemimpin dan bawahan jika ingin mencapai visi (cita-cita).
        Dalam penulisan skripsi ini profil Timotius merupakan suatu acuan yang tepat dengan tujuan mengidentifikasi integritasnya supaya dapat diteladani. Dalam profil Timotius ada beberapa indikasi yang menunjukan integritasnya yaitu hubungannya dengan Rasul Paulus sebagai anak dan rekan sekerja serta sama-sama sebagai hamba kristus. Hubungan Timotius dan Paulus adalah suatu hubungan yang sangat dekat sehingga Timotius menjadi seorang yang selalu dipuji (Fil 2:19-22).
         Timotius sangat layak diberikan predikat seorang yang berintegritas karena memenuhi kriteria atau tuntutan, yakni kredibilitas dan loyalitasnya yang teruji. Filipi 2:19-22, 1 Korintus 4:17 dan beberapa surat-surat Paulus menjadi dasar untuk melandasi kedua istilah kredibilitas dan loyalitas.

"Belum di koreksi penulis"
footnote tidak dicantumkan!!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar